Aging

Kekerasan Terhadap Lansia

KEKERASAN PADA LANSIA
Definisi
Kekerasan terhadap lansia dapat diartikan sebagai tindakan yang disengaja atau kelalaian (tidak sengaja) terhadap lansia baik dalam bentuk malnutrisi, fisik/tenaga atau luka fisik, psikologis oleh orang lain atau keluarga yang disebabkan adanya kegagalan pemberian asuhan, nutrisi, pakaian, pengawasan, pelayanan medis,rehabilitasi dan perlindungan yang dibutuhkan.

Salah satu tindakan kekerasan terhadap lansia adalah perlakuan yang salah (neglected), istilah yang sering kita dengar adalah elder mistreatment kadang juga kita sebut abuse of the elderly

Bentuk Kekerasan Terhadap Lansia

Secara  mendasar ada 4 aspek kekerasan terhadap lansia yang terdiri dari aspek Fisik, Psikologis, Sosial dan Spiritual. Beberapa fakta dilapangan, lansia yang mendapatkan tindakan kekerasan antara lain dalam bentuk pengabaian (penelantaran), tekanan, pemaksaan, kekerasan, penipuan dan eksploitasi yang mengakibatkan trauma dan mempengaruhi keberfungsian sosial lansia.

Menurut American Medical Association (1987) bahwa perlakuan yang salah terhadap lansia merupakan suatu perbuatan atau penelantaran yang mengakibatkan bahaya atau ancaman bahaya terhadap kesehatan atau kesejahteraan lansia. Biasanya terjadi akibat perbuatan orang yang lebih berdaya terhadap orang yang kurang berdaya .

Beberapa jenis perlakuan yang salah pada lansia dapat dilihat di bawah ini:

* Fisik: yaitu perbuatan menyebabkan rasa sakit, luka, cacat atau penyakit. Misalnya mencubit, menendang, dorong, memerkosa, pengekangan tanpa alasan. Hal ini merupakan perlakuan yang salah yang jarang didapati

* Penelantaran: kegagalan pengasuh untuk tidak memenuhi kebutuhan yang diperlukan untuk menjalankan fungsi yang optimal atau menghindari bahaya. Hal ini lebih sering didapati dari perlakuan yang salah secara fisik.

Misalnya menghentikan perawatan, Dapat berupa penelantaran yang pasif seperti meninggalkan lansia sendirian, diisolasi, dilupakan dan penelantaran aktif: seperti menghentikan kebutuhan seperti makanan, obat-obatan, pakaian, pergaulan, bantuan mandi, oversedasi.untuk mengontrol tingkah laku.

* Psikologik/ Verbal: perbuatan yang menyebabkan penderitaan mental. Misalnya Intimidasi, penghinaan, dipanggil namanya, diperlakukan seperti anak-anak,isolasi sosial, diancam, ditakut-takuti. Hal ini sering tidak disadari, walaupun tidak selamanya lebih ringan dari perlakuan yang salah secara fisik.

*Keuangan: penyalahgunaan harta lansia untuk kepentingan orang lain. Misalnya menggunakan uang lansia untuk kepentingan orang lain, bahkan dengan akibat tidak memenuhi kebutuhan pokok lansia.

* Pelanggaran hak yaitu pencabutan hak asasi. Misalnya kebebasan, memiliki harta, bertemu, berbicara, bersuara, berahasia. Kebanyakan korban mengalami lebih dari satu jenis perlakuan yang salah.

Karakteristik
Ketidakmandirian merupakan faktor yang penting karena membatasi kemampuan korban untuk melawan perlakuan yang salah dan takut melaporkannya sebab akan mendapatkan perawatan yang lebih buruk.

Mereka yang tidak mandiri dapat disebabkan kepikunan yang berat dengan atau tanpa cacat fisik, dan dapat mengalami gangguan perilaku, yang sebahagian besar kebutuhannya tergantung pada pengasuhnya, Wolf dan Pillemer menemukan 64 % dari pelaku mempunyai ketergantungan keuangan pada korban dan 55% mempunyai ketergantungan perumahan pada korban.

Sebahagian besar dari pengasuh utama adalah berusia di atas 50 tahun dan hampir 20 % berusia di atas 70 tahun. Beberapa penelitian menyimpulkan bahwa anak-anak yang sangat sedikit berintegrasi dengan masyarakat (misalnya orang yang tidak mempunyai pekerjaan) dan diberi tanggung jawab untuk merawat lansia sering menjadi pelaku. Pelaku sering mengalami stres yang berasal dari luar tubuh, seperti alkoholisme, perumahan yang tidak memadai, kurangnya bantuan dari anggota keluarga dan lain-lain.

Alasan Tak Melaporkan
Ada beberapa alasan mengapa perlakuan yang salah tidak dilaporkan, yaitu kurangnya pengenalan dan pengetahuan tentang perlakuan yang salah, sikap yang tidak baik terhadap lansia (ageism), kurangnya literatur tentang perlakuan yang salah pada lansia, keengganan menyatakan adanya tanda perlakuan yang salah, hidup korban yang terisolasi, adanya tanda yang tidak khas dari perlakuan yang salah misalnya higiene yang buruk, dehidrasi (kurangnya cairan tubuh), enggan /takut bertentangan dengan pelaku.

Penanganan Wawancara
Adanya perlakuan yang salah terhadap lansia sering sulit ditentukan, karena ketidakmampuan lansia untuk memberikan keterangan akibat kepikunan. Kadang-kadang keterangan juga sulit diperoleh dari korban, karena adanya rasa takut terhadap balas dendam dari pelaku, yang dapat berupa kekerasan fisik, ancaman dan meninggalkan korban, takut ditempatkan pada panti rawat. Pada umumnya, korban diwawancarai tanpa kehadiran pengasuhnya.

Dalam menentukan adanya perlakuan yang salah pada lansia maka beberapa pertanyaan di bawah ini perlu diajukan, yaitu:

* Siapa yang menjadi korban
* Siapa pelakunya
* Dimana terjadi
* Bagaimana pola dari perlakuan yang salah
* Jenis perlakuan yang salah : fisik, penelantaran, psikologik, keuangan,
* Apakah disengaja atau tidak ?

Pemeriksaan Gejala dan Tanda
Berdasarkan ditemukannya sebahagian gejala dan tanda pada korban dapat menunjukkan dugaan adanya perlakuan yang salah, yakni

* Perlakuan yang salah secara fisik: adanya memar, luka bakar, bilur-bilur, luka robek, luka tusuk, fraktur dan dislokasi, bekas rambut yang ditarik, penyakit atau infeksi kelamin yang sulit dijelaskan, tanda kekerasan fisik atau pemaksaan melawan keinginan korban seperti adanya bilur-bilur bekas tali, hilangnya kaca mata, alat bantu dengar, gigi palsu, dan kemunduran kondisi kesehatan yang tidak bisa dijelaskan.

* Penelantaran fisik : adanya gejala dan tanda kesalahan pengobatan, malnutrisi dan atau dehidrasi.

* Perlakuan yang salah secara psikologik: kurang tidur, tidur yang berlebihan, kenaikan atau penurunan berat badan yang tidak lazim, perubahan selera makan, sering menangis, paranoia yang tidak dapat dijelaskan, kepercayaan diri yang kurang, ketakutan yang berlebihan, kebingungan, menarik diri dari pergaulan masyarakat

* Perlakuan yang salah secara keuangan: perubahan yang mendadak atau tidak dapat dijelaskan dalam hal ketidakmampuan membayar rekening, penarikan seluruh uang dari tabungan atau deposito, ketidaksesuaian antara harta kekayaan dan kondisi kehidupan korban.

Pemeriksaan Pendukung
Pemeriksaan laboratorium dan foto perlu dilakukan untuk memastikan setiap adanya kecurigaan akan perlakuan yang salah pada wawancara dan pemeriksaan fisik korban.

Adanya dehidrasi dan malnutrisi dapat ditentukan dari pemeriksaan laboratorium seperti pemeriksaan darah lengkap, nitrogen urea darah, kreatinin, kadar protein total dan albumin, sedangkan pemeriksaan foto untuk menentukan adanya fraktur (patah tulang) yang lama dan baru terjadi.

Pencatatan dan Pelaporan
Semuanya yang memberikan pelayanan kesehatan, baik dokter, perawat, pekerja sosial atau pengelola diwajibkan oleh hukum untuk melaporkan adanya perlakuan yang salah terhadap lansia.

Selain daripada mereka, setiap orang boleh juga melaporkan adanya dugaan perlakuan yang salah tersebut.

Semua yang melapor dibebaskan dari tuntutan hukum sepanjang mereka melaporkan masalah ini dengan itikad baik Sebaliknya mereka dikatakan lalai jika tidak melaporkan hal ini dan dapat dihukum berupa membayar denda, kurungan dan izin usahanya merawat lansia dicabut. Di Indonesia masalah ini belum diatur dengan baik.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s